Warga yang biasa melintas di Jalan Taman Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat tentu sudah familiar dengan Masjid Agung Sunda Kelapa. Selain dikenal megah, masjid yang dibangun sejak 1967, tepatnya pada era Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin ini juga memiliki sejarah dan konsep bangunan sangat unik.
Ide pembangunan tempat ibadah ini dimulai pada 1950 saat warga Muslim di Menteng ingin membangun masjid secara swadaya.Barulah memasuki era 1967, warga mengajukan pembangunan masjid kepada Gubernur Ali Sadikin. Pengajuannya pun disambut baik,
Singkat cerita, pada era tersebut, Masjid Agung Sunda Kelapa dibangun di atas lahan seluas 9.920 meter persegi milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Pada 1968 mulai dilakukan peletakan batu pertama dengan anggaran swadaya warga.
Masjid kemudian rampung dan diresmikan Gubernur Ali Sadikin pada 31 Maret 1971 dan dibuka untuk umum sehari setelahnya.
dalam pembangunannya, desain interior dan eksterior Masjid Agung Sunda Kelapa melibatkan arsitek ternama, Ir. Gustaf Abbas yang juga mendesain Masjid Salman di Jalan Ganesha, Bandung, Jawa Barat.
Desain Gustaf ketika itu mematahkan ciri khas desain masjid-masjid pada umumnya di Indonesia yang identik dengan bangunan kubah dan tiang penyangga ala Timur Tengah. Masjid Agung Sunda Kelapa dibangun lebih modern pada masanya dengan simbol yang fleksibel dan tidak kaku.
Menariknya Gustaf membuat atap masjid dengan desain melengkung seperti kapal. Ini menjadikan masjid memiliki makna lain untuk mengingatkan kita bahwa letak masjid juga dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa.
Secara filosofi, Masjid Agung Sunda Kelapa seperti pelabuhan bagi manusia-manusia yang tengah melakukan perjalanan menuju ke tujuan akhir menghadap Allah SWT. Biasanya dalam perjalanan mereka akan kehabisan logistik dan berlabuh.
Upaya masjid ini menjadi lebih inklusif dan ramah penyandang disabilitas terllhat dari fasilitas masuk masjid dengan jalur kursi Rodan Dan lift memungkinkan penyandang disabilitas untuk mudah dalam aktifitas beribadah didalam masjid.